Feeds:
Posts
Comments

Lost In Inspiration

Yes, I’m lost..

help me…

Blank Spot

Kita pasti pernah berada di suatu daerah yang sulit mendapatkan sinyal ponsel atau kehilangan siaran radio yang biasa didengar ketika memasuki luar kota. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Kita lihat dulu bagaimana kerja radio bisa sampai ke wilayah kita.

Dalam Kamus Anak Nasional: Gelombang radio diradiasikan ke udara dalam bentuk getaran, jumlah getaran tiap detik disebut dengan frekwensi. Pada ujung frekwensi gelombang radio dapat menembus benda padat dan cenderung menyebar ke segala arah. Gelombang ini dibuat dengan mengirimkan arus bolak-balik yang kuat ke logam yang disebut dengan antena. Modulasi yang digunakan dalam penyiaran gelombang radio ada dua macam, yaitu ampiltudo modulasi (AM) dan frekwensi modulasi (FM). AM membawa arus gelombang radio yang frekwensinya tetap dan amplitudonya berubah-ubah sesuai suara asal, sedangkan FM sebaliknya. Oleh karenanya suara FM yang sampai ke penerima lebih baik ketimbang AM.tower-radio.jpg

Pada wilayah tertentu, sinyal radio akan sulit diterima dengan baik, wilayah yang sulit tersebut misalnya dataran rendah yang dikelilingi bukit dan gunung yang bisa kita sebut dengan blank spot area (wilayah hampa).

Radio merupakan salah satu media komunikasi yang penting di Indonesia, berbagai kegiatan mulai dari hiburan, pendidikan bahkan sekedar informasi harga cabe memerlukan media ini. Pada wilayah blank spot, dibutuhkan radio komunitas untuk menangkap frekwensi dari daerah yang jauh kemudian disiarkan kembali berbagai informasi yang sesuai kebutuhan wilayahnya masing-masing.

Kalau boleh mengibaratkan cara kerja siaran radio dengan kadar hati (bc: keimanan) manusia, maka kira-kira seperti..

Kadang kita sering diliputi firasat (baik atau buruk) pada waktu yang tidak terduga sama sekali. Misalnya saat berada di percabangan atau persimpangan jalan, sering terdengar dari suara hati “feelingnya sih ke kanan..” atau misalnya kita sudah rapih mau berangkat, tiba-tiba ada saja hambatannya sehingga kita memutuskan untuk menunda atau membatalkan perjalan tsb. Masalah hati (feeling, perasaan, firasat, dsb) emang harus ada pembahasan tersendiri pada waktu lain. Dalam hal ini, saya mencoba mengkrucutkan kedekatan hati kita dengan sang khalik.

Visualisasi gambar diatas hanya pengibaratan dari pribadi saja, bisa jadi tidak persis sama dengan keadaan sebenarnya.

Orang-orang yang beriman dan dekat dengan sang pencipta senantiasa diliputi cahayaNYA akan mampu menangkap sinyal yang dikirimkan ALLAH lebih baik daripada orang-orang yang tidak (mau) dekat denganNYA. Padahal Dia begitu dekat, bahkan lebih dekat daripada urat nadi kita sendiri.

Sementara itu, orang-orang yang puas dengan dirinya sendiri, tidak mau memperbaiki keadaannya, maka sekuat apapun sinyal yang ada tidak akan sampai pada hatinya. Orang-orang dengan keadaan ini bisa dikatakan sedang berada di zona blank spot. Selamanya ia akan berada di wilayah tersebut jika mereka tak mau berusaha “mendaki” ke tempat yang lebih tinggi ataupun mendekati majelis-majelis (komunitas orang-orang beriman) yang bisa saling mengingatkan dalam kebaikan seperti layaknya radio komunitas tadi.

tower-manusia.jpg

Jikalau sinyal sudah sering didapat, maka kita harus terus bisa merawat elemen/logam penangkap sinyal itu tadi dengan baik. Receiver dari sinyal tersebut adalah iman. Maka, sudahkah kita merawatnya dengan baik?

Kecanduan

Ketika akan memutuskan untuk berhenti bekerja kantoran, maka telah siaplah diri ini dengan segala konsekuensi yang akan datang seperti hilangnya saat-saat “memanjakan” diri dari kantong sendiri, ketergantungan (kembali) biaya kuliah, dan yang pasti mengalah pada pertaruhan izzah yang selama ini standarnya dibuat sendiri.

Entah pertimbangan akurat ataukah sekedar mencari-cari pembenaran atas keputusan ini atau mungkin juga karena kurangnya mujahadah dalam diri. Dua bulan sudah aku lepas dari aktifitas kejar-kejaran antara tugas kuliah, jadwal kuliah dan deadline kantor. Dua bulan sudah terlepas dari 4 lampu merah yang selalu macet antara Kupar Cakung-Pondok Kelapa, persaingan dengan sopir metromini 45 di sepanjang Klender, merangsak pelan sekitar TPU Layur Rawamangun dan mengintip kegiatan “kupu-kupu malam” di perempatan Pulomas dalam terpaan angin malam menuju Kelapa Gading.

Layaknya mesin yang terus bergerak, setiap hari aku hanya memastikan untuk bisa menyelesaikan program S1 yang (sempat) tertunda ini walau kadang tak yakin apakah pelajaran yang selama ini ku terima telah benar-benar dikuasai? apakah nilai A, B, atau C yang kuterima benar-benar menujukkan kualitas keilmuanku? Idealis sekali bukan? Mungkin karena aku memang belum menemukan PASSION belajar yang sesungguhnya pada perkuliahan sebelumnya. Kurangnya passion belajar tiga tahun yang lalu harus kubayar habis-habisan dengan kuliah ini agar tak menjadi penyesalan kemudian hari. Itu janjiku sungguh.

Pun dalam kantor, tenggelam dalam deretan deadline hingga tak jarang kuabaikan jam malam. Batinku terus bertanya apakah memang ini yang kucari? Wawasan dunia pendidikan mulai meluas, pikiran melalang penasaran menuju sudut-sudut dunia namun jasadku masih terdampar dalam ruangan putih 5×7 meter. Apakah hidupku selamanya akan terkurung dalam ruangan ini? Sampai kapan kuhias pemikiran orang lain dalam sampul cantik padahal esensi dasar atas ilmu yang didalamnya saja aku tak tahu! Aku ingin tidak hanya berada dibalik sampul pemikiran orang lain, aku ingin menjadi bagian terdepan terhadap perubahan dan keilmuan. Aku sungguh ingin..hasrat ini tak pernah memudar, setiap hari di detik pertama pijakan awal dalam ruangan putih itu…

Adalah cita-cita..ia muncul tenggelam layaknya pohon yang berbaris dan berkejaran dibalik kaca jendela kala pagi dan berkelit lincah diantara jajaran temaram lampu jalan kala malam. Sesekali ia bersembunyi dan terbang bersama angin dan kembali mengetuk alam bawah sadarku untuk menjejakkan kaki dalam deretan langkah kecil perjuangan yang sesungguhnya, mengikat makna dalam setiap kerja nyata, menyadari bahwa tirani keangkuhan tidak bisa serta merta dihancurkan dengan nuklir “madani” yang keharuman menambah indah dunia, karena sesungguhnya ia adalah bagian dari perjalanan panjang dari kehidupan yang dititahkan atas setiap nyawa yang berakal. Hanya yang berakal..

Bukankah Allah telah menjanjikan derajat yang lebih tinggi bagi orang-orang yang berilmu?

Tapi bagaimana aku bisa berada di garis depan perubahan, jika saat ini saja mudah sekali menyerah pada keadaan? Kenapa aku mudah sekali mentolelir kemalasan? Tunggu.. apa iya kemalasan?

Kantor bagian produksi yang bertambah jauh dari kampus?
Penambahan cctv dalam ruangan?
Tidak upgrading karyawan?
Kurangnya percepatan inovasi dalam penerbitan?
Kurangnya hearing pendapat?
Merasa portofolio sudah cukup?
Bosan dengan lingkungan dan jenis pekerjaan?
Tapi merek sangat baik dan telah memberikanku banyak kepercayaan..

Tapi..

Jadwal kuliah yang sudah tidak mengakomodir mahasiswa yang kuliah sambil bekerja..
Semester 5 yang penuh penelitian..
Ingin memenuhi target mengajar..
Ingin menguasai perkuliahan secara utuh..
Ingin membabat habis sisa 18 SKS terakhir..
PPL, skripsi, lalu sidang..

Terlepas dari itu semua, sebenarnya aku hanya ingin mencari keutuhan makna AKU yang sebenarnya, aku ingin mencari definisi atas diriku sendiri sekalipun harus terjegal dengan realitas yang ada. Seperti beberapa hari belakangan ini, semangatku yang seringkali kugenjot habis untuk mencari kepuasan dalam bersekolah, entah mengapa semakin fluktuatif dan sering menyentuh antiklimaks keyakinan. Realitas ketidakmandirian dalam menafkahi diri sendiri menjadi momok dalam melangkah, aku dihadapkan pada keadaan kata-kata “seharusnya”! Ya, seharusnya orang-orang seumuranku telah mampu menghidupi dirinya sendiri bahkan mampu menafkahi keluarganya sendiri, seharusnya sudah bisa menopang perekonomian keluarga, seharusnya bukan meminta orang tua tapi memberinya, seharusnya bisa memenuhi cita-cita dengan jerih payah sendiri. Seharusnya..dan seharusnya..

Dalam buku “Sekolah itu candu” kita seringkali terbentur pada aturan masyarakat bahwa kualitas intelektualitas seseorang ditentukan oleh ijazah. Sehingga anak-anak Indonesia terjerat aturan wajib belajar dengan kualitas kurikulum yang alakadarnya. Bagi sebagian besar orang tua, sekolah seakan menjadi lingkaran setan yang tak putus-putus, berputar-putar dalam ketidakpastian kebutuhan dasar hidup. Sekolah menjadi candu, karena mau tidak mau, suka tidak suka harus diikuti demi sebuah “pengakuan” yang seringkali masih dipertanyakan dan diperebutkan untuk sebuah jabatan. (mohon dikoreksi kalau salah dalam menyarikan isi buku tsb).

Pagi tadi batinku berontak habis-habisan, bertolak belakang pada satu garis lengkung senyuman. Pengakuan seseorang selepas ia menutup pembicaraan panjang lebar di dengan seseorang di seberang pulau sana dalam menyepakati pembayaran “uang muka” PNS.
“Buat apa uang 15 juta itu mba?”
“Ooo..itu untuk uang muka pegawai negeri 3 orang, saya, bang y, dan bang x”
“maksudnya?”
“Iya tho, daerah kita ini sedang ada pemekaran di utara dan selatan, makanya lagi banyak penerimaan, ada jatah 1000 orang untuk seluruh daerah dan ada 300nya ada di bapak itu”
“memangnya gak ada tes?”
“ada, tapi kita orang kan banyak saingan, jadi biar langsung masuk saja, bulan 4 besok sudah dapat nama dan NIPnya”
“tapi teman-teman saya yang masuk masuk PNS benar-benar harus lulus tes dan wawancara..”
“itu lah, karena saingan banyak, makanya kita cari yang pasti-pasti saja”
“tapi itu kan mahal banget..”
“itu belum seberapa, kita ada link yang bisa kasih 10 juta per orang, sementara orang lain ada yang rela melepas sampai 60 juta!”
“Bukannya sekarang mba kuliah lagi?”
“Ooo, itu cuman buat formalitas aja..”

Astagfirullah..Na’udzubillah..

Aku memang kecanduan..
tapi bukan kecanduan yang memaksa untuk sebuah jabatan..
tidakkah ia mengerti ada kenikmatan tersendiri dalam menaklukkan ilmu pengetahuan..
pengetahuan menunjukkan eksistensi diri dalam kehidupan..
kutekankan..kecanduan ini bukan untuk sekedar pengakuan..

Sore itu hatiku ikut robek bersamaan saat amplop gaji itu dibuka empunya.
“Ini 50 ribu, ganti uang si mas chaer untuk benerin pintu..”
“Ini untuk propolis si adek kemaren..berapa harganya Ya? 100 ribu kan?”
Dan aku hanya bisa menelan pahit “Iya mah, udah cukup kok..”

Ronce Melati

Iseng-iseng buka postingan di blogspot 2 tahun yang lalu dan ternyta masih ada tapi ya ampyunn..melankolis bgt! Wakakakakkk.. tapi setelah dipikir-pikir mungkin ini bisa jadi sekedar sharing untuk sahabat saya di Cilegon yang sedang melewati “fase” yang gak enak itu. *Biasalahhh..anak muda jaman sekarang!* Huehehehee..

Friday, November 17, 2006

“Ayas! Cepat kesini, mas Jati baru bikin sirup bunga!” teriak kecil mas Jati waktu Yasmin baru selesai mandi pagi. “Mana sirupnya mas?”. “liat deh, ini namanya sirup bunga!”. Ketika itu yasmin melihat dengan takjub air berwarna merah yang keluar dari gerusan bunga sepatu. “ayas mau mas..ayas mau..”. “jangan, ayas main ama mas Damar aja! Mas punya bunga matahari yang bentuknya persis seperti matahari!” mas Damar pun berteriak memanggil Ayas adik tercintanya. Suara riuh rendah dan tawa riang mereka menghiasi taman kecil milik eyang tercinta mereka selalu…

“Eyang..eyang..Ayas boleh petik bunga ini, ayas mau gerus jadi sirup seperti punya mas jati”. Eyang tersenyum dan mengangguk. “Asikkk…”, lalu Yasmin pun berlari kecil menuju mas jati dan mas damar yang masih asik dengan eksperimen bunga yang lain. Namun tiba-tiba “BRUKKK” Yasmin tersandung batu taman dan tangispun tak terbendung lagi. “hahaha…si kaki kecil jatuh lagi!” mas Jati dan mas Damar bergantian menyoraki Yasmin karena memang tubuh Yasmin kurang proporsional. Tubuhnya cukup ndut, sementara tungkai kakinya kecil sehingga seringkali ia terjatuh karena kurang bisa menyeimbangkan tubuhnya.

“cup..cup..sayang, cucu eyang yang manis jangan nangis..” eyang pun harus ekstra keras untuk menghentikan tangis cucu perempuan pertamanya, Yasmin sangat cengeng dan mudah ngambek karena memang dari lahir kurang sentuhan tangan ibunya yang masih harus “di isolasi” darinya agar yasmin tidak tertular penyakit yang sama.
“dengar sayang, bunga yang tadi Ayas minta punya nama yang sama dengan ayas”, cepp..seketika itu juga Yasmin mulai menghentikan tangisnya. “Ayas, nama bunga ini adalah melati, yang nama lainnya adalah jasmine” “yah betul, bahasa latinnya adalah Jasmine, mirip kan dengan nama ayas”. “nama ayas?”, “Yasminda Kani Putri maksud eyang?”. “hahaha..betul! cucu eyang pintar ya?”. Senyum yasmin pun merekah indah seperti melati yang mekar pagi itu.

“Eyang..ayas suka sekali dengan melati! Dia seperti Ayas kalau baru selesai mandi! Heummpphhh….pasti wangiii…hihihi…”. “Betul sayang, bunga ini bunga kesayangan eyang, karena selain wanginya yang khas, bunga itu selalu mengingatkan eyang pada cucu kesayangan eyang!” terang eyang sambil meyentuh lembut hidung yasmin. “yang bener nih yang? Bukannya cucu kesayangan eyang itu mas damar dan mas jati??” sikut manja yasmin, “sssstttt…..” tangan eyang mengisyaratkan tanda rahasia mereka berdua. “Bunga ini juga sangat bermanfaat, harumnya menenangkan, bentuknya sederhana namun indah, mudah dipelihara, dan yang pasti…” eyang menghentikan sebentar penjelasannya kemudian ia beranjak meninggalkan Yasmin sebentar menuju meja kecil tempat dimana ia biasa merajut. “melati ini bisa untuk menghias kepala pengantin wanita yang biasanya disebut ronce” lanjut eyang kemudian. “ronce? seperti yang tante Yuli kemarin pakai?” mata Yasmin berbinar-binar. “betul! Suatu saat nanti ayas juga akan memakai melati2 ini..” eyang menatap lekat mata ayas yang semakin berbinar itu.

“Bunda, Simpan dulu dulu dong undangannya! Ayo lanjut lagi cerita putri jempolnya…”. Tiba2 Yasmin tersadar dari lamunannya. “Oia, sampai dimana cerita bunda tadi?”. “Ihh..bunda! kita sudah sampai saat putri jempol terbawa arus sungai saat melarikan diri dari rumah ibu tikus!” jelas Renda anak angkatnya yang paling dewasa. “oia, maafin bunda yaa..lanjut lagi deh..waktu itu saat putri sampai di tepi sungai, laluu…” Yasmin pun kembali melanjutkan ceritanya.

Pagi ini seharusnya Yasmin sudah mengenakan ronce melati berikut dengan baju kebaya putih jahitan etek Icha yang sudah dipesan 3 bulan yang lalu, seharusnya pagi ini ia sudah berdiri dengan anggun dan menyalami ratusan tamu undangan, seharusnya pagi ini yasmin sudah menyandang gelar nyonya Surya Pratama. Ya, seharusnya jika rencana pernikahannya setengah tahun yang lalu itu terlaksana, pagi ini mungkin yasmin tidak duduk bersama dengan 5 orang anak2 angkatnya, namun duduk bersanding dengan Surya.

Setelah acara mendongeng selesai, Renda, Galuh, Ramdani, dan Ikhsan berlarian menuju dapur, mbok mur sudah menghidangkan sarapan untuk mereka.
Tinggal Hezel yang masih kecil yang tetap duduk di pangkuan Yasmin, matanya tak berkedip saat seekor kupu-kupu hinggap sebentar di ujung hidungnya lalu kembali terbang, bola matanya terus menatap ke arah perginya kupu-kupu tadi. Yasmin geli sekali melihat tingkah hezel, lalu ia kembali menatap undangan yang berwarna hijau daun dengan aksen mawar putih, ia melihat lekat nama yang tercetak emas. “Indah Sari & Surya Pratama”. Nama pengantin pria yang tidak asing lagi, yang namanya selalu menghiasi hari-hari yasmin seperti layaknya kupu-kupu yang selalu mampir dan menghiasi tamannya. “Lihat Hezel…kalau saja bunda jadi bersamanya, warna undangannya pasti tak hanya hijau, tapi pasti ada warna kuningnya” Hezel mendengarkan penjelasan Yasmin sambil sekali-kali memperhatikan gerak bibir Yasmin. “Tak hanya itu, aksennya pasti berbentuk melati, seperti nama bunda…”. Hezel menatap sebentar, lalu ia kembali mencari kupu-kupu tadi. “akhkh..hakaka..nda min tutu pupu..” tangan Hezel menunjuk-nunjuk kupu-kupu yang terbang semakin jauh. “Kupu-kupunya sudah terbang sayang..tidak apa besok akan ada kupu-kupu lain yang akan mampir ke taman kita lagi”, “Ini, lihat bunda sudah membuat ronce melati”. Mata Hezel berbinar-binar, seperti mata yang pernah ia perlihatkan ke eyang 20 tahun yang lalu saat pertamakali mengenal ia melati.

Yasmin kemudian menatap langit pagi, lalu menarik nafas yang panjang. “Eyang, hari ini Ayas tidak jadi memakai ronce melati seperti yang pernah eyang bilang..” “aku menolaknya sebagai bentuk baktiku pada ayah dan ibu..” “kesalahan aku padanya tentu banyak, aku pasti membuatnya luka..tapi seandainya saja ia mau mengerti apa yang seharusnya ia lakukan, kalau saja ia tak melihat segala sesuatu dari 1 perspektif yang sama, mungkin saat ini aku sudah bersama dengannya di taman ini, dengan bertahta ronce melati ini…” “Eyang…mungkin hari ini memang belum saatnya aku mengenakan ronce ini…suatu saat nanti pasti eyang…suatu hari nanti di pagi hari…melati ini pasti akan terlihat lebih indah…”

–> Tuh kan, melankolis abis! Waktu itu kenape yee?? Au ahh elapp..

Don’t Try 1-2-3-1!

Hari senin yang lalu, setelah mengkuti mata kuliah evaluasi program, saya sempat merasa bingung, bukannya apa-apa..hari ini membahas model-model evaluasi program ala Stufflebeam yang terkenal dengan CIPP+Onya, model Scriven, dan yang model2 evaluasi program lain yg namanya bikin ribet lidah! Bingung karena seharusnya buku wajib (red: yang wajib dibeli+dibaca+digunakan) seharusnya saya miliki 2 minggu yg lalu, akibatnya saya terseret-seret mengikuti pernjelasan bu dosen yg terkenal dengan detail, sistematis, dan perfectionis dan super teoritis..always stylish, suka masak sayur tumis, senyumnya manis, dan doyan makan kismiss..lho..lho..ngawurrr..

Selepas sesi kul berakhir, mba E ngajakin ke Kwitang utk hunting buku yg terkenal susah dicari itu. (Sekedar info, Kwitang adalah salah satu tempat di Jakarta yang paling disebelin sekaligus paling dicari, disebelin oleh para penulis karena buku-buku mereka dibajak habis-habisan sehingga mirip dengan buku aslinya tapi bisa dibeli dengan harga yang sangat miring! Biasanya Kwitang ramai setiap tahun ajaran baru, orang-orang yang kantongya pas-pasan dan kurang menghargai copyright akan berburu buku disini).

Sebetulnya saya dah planning untuk coba cari di toko buku yg dekat dengan rumah aja biar bisa sekalian nodong ortu utk bayarin buku2 lainnya. Maklum dah back to the real pengangguran! Hehehe..

Jadilah sore itu, kami berdua menuju kwitang. Dari awal, si mba E dah wanti-wanti utk memasang “MUKA GAK BUTUH-BUTUH AMAT!” karena konon katanya kalo keliatan banget muka butuhnya, harga yg didapat bukannya lebih murah, malah lebih mahal daripada standar harga normal di toko buku yg dah punya nama seperti Gramedia, Gunung Agung, atau Karisma. Walaahhh..padahal aku ini ekspresif bgt! Kalo lg butuh, yaa..setelan mukanya bakalan apa adanya: ngenes, apes, butuh banget, dan ngarep welas asih dari penjualnya. Hehehe.. (Udah deh Ya..ngaku aja, emang gak bakat dalam tawar menawar kan?)😀 Mungkin emang gak bakat seperti kebanyakan emak-emak di pasar yg bisa intervensi penjualnya sampe setengah harga! Mending cari barang yg dicari, di tempat yg pasti, ambil barangnya, bayar ke kasir, gak tengok kanan kiri, gak pake nawar, gak ambil pusink, pulang. Makanya suka heran ama si mamah yg demen window shopping dan berburu diskon. Hehehe..

Setelan mahasiswa kami yang kental bgt, menjadi sasaran empuk persuasinya para pedagang buku. “Sini mba, cari buku apa?”, “mahasiswa nih, buat kuliah apa?” atau “cari apa dek, sini abang cariin!” Idihh! Akhirnya aku cuman bisa nunduk dan pura2 gak denger, sambil sesekali menyapu pandangan ke sekeliling. Cuman si mba E yg kebal kupingnya dan tetep masang muka “Gak butuh-butuh amat”, bagaimana mukaku? Hehehee..I don’t know exactly..mana sempet ngaca?!!

Setelah 2x puteran huruf “L”nya Kwitang, dengan mendatangi puluhan lapak, si mba E mulai keliatan lelah, saya sendiri juga gak nyangka berburu buku yg satu ini luar biasa sulitnya. Udah kayak nyari buku primbon ajah. Mulut kami juga udah kaya kaset kusut aja krn ngulang-ngulang pertanyaan yg sama mulai dari:

Saya: “Ada buku evaluasi program?”

Pedagang: “Oohh..yang Suharsimi itu ya? Ada..ada..” (sambil nunjukin buku evaluasi pendidikan)

Saya: “bukan pak, tapi EVALUASI P-R-O-G-R-A-M”

Pedangang: “Ooh kalo gitu berarti gak ada” (sambil geleng-geleng kayak ikan lele..)

Mba E: “Ada donk pak, warnanya abu-abu” (si mba mulai maksa karena ngerasa hampir semua pedagang menjawab yg sama)

Pedagang: “penerbitnya?”

Mba E: “Eka Citra”

Pedagang: “gak ada” (sambil tetep geleng-geleng)

Can u imagine? We are almost asking the same question for a hundreds times and get the same answer too! Akhirnya kami memodif pertanyaan menjadi lebih lengkap:

“Pak, bang..ada buku evaluasi P-R-O-G-R-A-M gak? Bukan evaluasi pendidikan ya! Karangan Suharsimi, Eka Citra, abu-abu kebiruan, #$%^%&&^@%%^&^()^ bleppp..blepp..”

Perburuan buku yang penuh perjuangan (kaki gempor krn 3x keliling jalur Kwitang+bersimbah keringat+bau badan+muka “gak butuh-butuh amat” jadi “muka butuh bgt”) berakhir di sebuah toko buku (bukan lapakan) dengan harga cukup miring..alhamdulillah..

Nah, ini dia yang bagian serunya!

perempatan-senen-small.jpg

Menjelang Maghrib, kami berpisah. Si mba E ke Grogol, saya ke Pulo Gadung bersama si biru (mobil kaleng tercinta keluaran tahun 90an). Kekhawatiran yang selalu datang belakangan pun terjadi! Saya gak tau puteran balik dari depan gunung agung yg ke arah pulogadung dimana? OMG! Daya rekam jalan saya parahhhh sekali sodara-sodara! Padahal daerah Senen sangat familiar krn termasuk jalur jemput-anter ke kantornya si mamah. Dengan modal bismillah+sok PD akhirnya nemuin juga dan biasanya kalo dah nemu jalan, suka songong “ah gampang..” hahahahaaa!

Saya sudah menghadap arah ke pulo gadung, tapi masalah berikutnya terjadi ketika akan mengambil jalur. Kesalahan no.2 yang sering terjadi adalah: Latah dalam menentukan jalur! Biasanya orang-orang yg sering lewat jalan tertentu akan hafal dengan sendirinya karakter jalan tsb pada waktu-waktu tertentu dan hafal selah dimana titik-titik jalur yang bisa disalip dan jarang dilwati untuk menghindari macet. 1 teknik yang bikin pengendara mobil di perkotaan besar sedikit lebih unggul daripada pengendara di daerah lain adalah tahan mental dan berani (baca: nekat) ambil jarak cuman 1 atau 2 cm dari mobil bahkan truk gandeng! Hohoho..kira2 itulah pengakuan kakak sepupu saya yang biasa bawa truk proyek untuk bolak-balik naik turun gunung dan lembah, lantas give up ketika saya suruh gantian bawa sedang mini tp di Jakarta yg super sumpek ini! Hehehe..

Gara-gara latah, akhirnya saya mengikuti 2 sedan dan 1 taksi yang tiba-tiba menyalip menuju jalur bus way. Tiba-tiba pikiran nakal saya pun bermain “Sekali-kali bandel boleh kan? Ambil jalur bus way ahh..ntar tinggal tancap gas, arahkan setir ke kiri sedikit, masuk dan yeahh..pass the traffic!” tapi nyatanya??? OMG!!! Perempatan Senen yang begitu ramai dapat terlihat lebih jelas ketika berada di jalur bus way yg memang hanya 3 mobil di depan saya, dan baru ngeh! Ada POLISI tepat dibawah fly over! Waksss..maknyuss! baru beberapa hari yang lalu nonton berita di TV tentang pen-steril-an jalur bus way! Dan itu tandanya: TERANCAM TILANG!!!

Sempet stuck beberapa detik, udah mikir yang macem-macem ttg segala kemungkinan ditilang. Mikir-mikir di dompet tinggal 25 ribu walau STNK+SIM lengkap. Huuwwaaaaa..jadi nyesel kenapa gak pernah meratiin trik sidang dan tilang yang sering dikirim teman-teman di milis?! Istighfar banyak-banyak lalu take a deep breath..tiba-tiba kepala otomatis muter ke spion belakang “waahhh..kosong!” (nekat: mode on!), masukin gigi belakang, injek gas dalam-dalam, “bismillah..yakkk..mundurrrrrrrrrrrrrrrrrr!!!”, lantas masuk ke jalur biasa. Hufff gileeeeee!! Cuman hitungan menit setelah lampu ijo nyala, mobil paling depan di jalur bus way (yang bikin saya dan 2 mobil di depan saya latah) di T-I-L-A-N-G!

Masyallah, tobat Ya..tobattt…

Cerita dari Leuwinanggung

Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi sumber daya alam yang besar dan melimpah, namun potensi besar ini masih kurang diberdayakan oleh masyarakatnya. Kondisi masyarakat Indonesia yang unik membuat para penyelenggara pendidikan harus dapat membuat pola yang lebih fleksibel terhadap karakteristik pesertanya.

Seperti kita ketahui bersama, saat ini Indonesia memiliki berbagai macam persoalan pada bidang ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan. Hingga lima tahun belakangan ini, indeks pembangunan manusia Indonesia terus menurun. Pada tahun 1995, Indonesia menduduki peringkat ke 104 dunia jauh di atas Vietnam yang saat itu berada di peringkat 120 dunia. Ironisnya, dalam tahun 2005 peringkat Indonesia merosot ke urutan 110 dunia sedangkan Vietnam naik menjadi peringkat 108 dunia.[1] Hal ini merupakan masalah yang harus segera ditangani bersama dan membutuhkan solusi yang konkrit untuk menanggulanginya.

Solusi konkrit bisa dimulai dari hal-hal yang mendasar dalam kehidupan seperti perekonomian. Perekonomian dianggap menentukan berdaya atau tidaknya seseorang dalam masyarakat. Namun, pembangunan ekonomi tidak dapat berjalan sendiri tanpa diringi pembangunan dalam bidang pendidikan, karena pendidikan merupakan basis peningkatan kualitas hidup manusia. Pendidikan disini tidak selalu mengacu kepada pendidikan formal, akan tetapi bisa dilaksanakan kapan saja dan dimana saja sesuai konteks dan latar dari pebelajar.

Beberapa tahun belakangan ini, Pemerintah sedang gencar menggalakkan UKM (Unit Kegiatan Masyarakat) kecil. Karena unit kegiatan kelompok usaha kecil, menengah, dan koperasi merupakan wujud kehidupan ekonomi sebagian besar rakyat Indonesia. Keberadaan kelompok ini tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan perekonomian secara nasional. Kelompok ini mampu menyerap lebih dari 64 juta tenaga kerja dan memberikan kontribusi sebesar lebih kurang 58,2% dalam pembentukan Produk Domestika Bruto.[2]

Jumlah kelompok usaha kecil, menengah dan koperasi dan daya serap tenaga kerja yang cukup besar ternyata perkembangannya masih jauh dari yang diharapkan. Kelompok ini hanya selalu menjadi sasaran program pengembangan dari berbagai institusi pemerintah, namun program pengembangan tersebut belum menunjukkan terwujudnya pemberdayaan terhadap kelompok tersebut.[3]

Berangkat dari keadaan ini, divisi pengembangan masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), sebagai salah satu bagian dari elemen masyarakat merasa mempunyai kewajiban untuk mengaplikasikan ilmu yang mereka miliki sebagai bentuk kontribusi nyata kepada masyarakat umum. Kontribusi nyata itu adalah dengan memberdayakan masyarakat dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang seluruh program-programnya terangkum dalam proyek Community Development (ComDev). Salah satu daerah yang mereka pilih untuk penggarapan proyek ini adalah Leuwinanggung.

leuwi-saat-hujan.jpg

Sesuai dengan namanya, Leuwinanggung terdiri dari dua kata “leuwi” dan “nanggung” (jadi memang benar-benar tanggung posisinya). Secara administratif, Leuwinanggung berada dalam kotamadya Depok. Namun secara umum kondisinya sangat jauh berbeda dengan dua wilayah yang mengelilinginya yaitu Bekasi dan Depok. Menurut data kependudukan Kotamadya Depok, masyarakat Leuwinanggung termasuk ke dalam kategori masyarakat miskin kota, karena pendapatan perkapita mereka sangat rendah. Kondisi ini diperparah dengan adanya pemekaran wilayah perumahan mewah oleh para developer real estate yang berada di sekitar Lewinanggung, seperti perumahan The Address dan perumahan Bukit Golf. Menurut prediksi tim ComDev, kondisi perekonomian masyarakat Leuwinanggung terancam, karena daerah garapan para petani Leuwinanggung yang selama ini dijadikan sumber pendapatan utama mereka akan terkena imbas dari pemekaran tersebut. Sehingga apabila masyarakatnya tidak segera mencari alternatif matapencaharian, maka beberapa tahun ke depan kondisi perkonomian mereka akan jauh lebih parah.

Salah satu program yang ditawarkan untuk memecahkan masalah ini adalah dengan alternatif Grameen Bank atau Bank Desa, dimana penerapannya berupa pemberian modal usaha tanpa anggunan, penerapan tabungan berjalan, dan penyuluhan perekonomian. Sepintas, program Bank Desa ini seperti pendidikan kewirausahaan, namun tentu saja dalam penyampaian materinya tidak sama dengan penyampaian di dalam kelas formal. Informasi atau pengetahuan yang akan disampaikan disesuaikan dengan karakteristik masyarakat disana.

pengarahan-1-xtrasmall.jpg pengarahan-2-xtrasmall.jpg

Program Bank Desa ini telah berjalan hampir setengah tahun, namun dalam pelaksanaannya terdapat tantangan dan hambatan tersendiri, terutama dalam mensosialisasikan atau mendifusikannya kepada masyarakat. Karena program ini termasuk baru dan dianggap bermanfaat bagi masyarakat disana maka bisa dikatakan sebagai bentuk pembaharuan atau inovasi dalam bidang ekonomi.

Teman, sampai dengan paragraf ini saya ingin berbagi lebih banyak tentang kegiatan teman-teman comdev disana. Dari bidang ekonomi, hampir setiap sabtu mereka memberikan pengarahan para ibu rumah tangga yang tidak semuanya mengeyam pendidikan dasar. Ketika pertama kali menginjakan kaki di basecamp tim comdev, hal pertama yang terlintas adalah “ini kan TP banget!”. Disini terkihat dengan jelas banyaknya konsep TP yang diterapkan. Secara garis besar saya bisa mengaitkan dengan beberapa matakuliah yang terdapat di TP, diantaranya adalah: Inovasi dan difusi, pengembangan organisasi belajar, Sistem Terbuka dan Jarak Jauh, pendidikan orang dewasa, kewirausahaan, analisa kebutuhan peserta didik, pelatihan, dan masih banyak lagi.

Dalam bidang pendidikan, sekolah-sekolah disana jauh dari kata-kata prestasi. Bahkan sekedar mengacungkan tangan untuk bertanya pun tak ada. Tak perlu jauh-jauh bicara active learning, guru-guru disana bahkan belum mampu membangkitkan semangat belajar para siswa. Sehingga, masyarakat disana merasa cukup kuliah sampai SMP dan lagi-lagi mengikuti siklus menjadi PRT seperti para orangtuanya. Belum lagi saran dan prasarana sekolah yang pas-pasan. Ah, banyak sekali masalah disana, namun sebagai Tpers kita bisa kan bergerak memperbaiki kurikulum, mengajarkan metode belajar aktif, mendesain rancangan belajar untuk para guru, kan?

Bentuk kerja nyata teman-teman kita dari UI begitu konkrit dan tidak berputar dengan teori-teori saja. Bagaimana dengan kita? Teman, Wilayah TP begitu luas dan bisa diaplikasikan dimana saja, tidak selalu dalam wilayah lembaga pendidikan formal saja, saya yakin para TPers bisa melakukan hal yang sama dengan mereka bahkan lebih baik lagi! Bukan kah TP dibangun dari berbagai ilmu seperti komunikasi, psikologi, manajemen, dsb.

Kita punya ilmu yang luar biasa keren dan sangat sayang sekali jika tidak segera mengaplikasikan ilmu-ilmu tersebut dalam suatu bentuk kerja nyata untuk perubahan masyarakat.

Sejak tahun pertama kuliah di TP, saya seringkali mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti mengapa TP tidak dikenal secara luas? Mengapa pengakuan terhadap jurusan ini masih kurang? Kemana saja lulusan TP? Lalu, bidang kerja apa yang akan dipegang TP? Media sajakah? Atau apa? Dan seringkali pertanyaan itu mengawang begitu saja, dan lagi-lagi wajah tidak puas ditunjukkan teman-teman.

Coba berpikir dan melihat lebih luas (zoom out), di luar sana banyak sekali yang bisa dikerjakan. Mungkin itu salah satu pentingnya jiwa kewirausahan di TP, hal ini untuk mengajak kita mandiri dan tidak ketergantungan dengan lembaga yang sudah ada. Hmmphh..asik kali ya kalau banyak Tpers gabung, rembuk dalam satu tim, lalu bikin kegiatan yang selain bisa mengaplikasikan ilmu tapi bisa juga membantu banyak orang. Saya yakin ketika kegiatan itu mulai besar dan menampakkan hasil yang bagus, maka nama TP akan terangkat dengan sendirinya tanpa perlu gembar-gembor minta di expose. Salah satu prinsip dalam POB, jika kita ingin dianggap organisasi belajar adalah jika mau belajar dari kesalahan dan tidak malu belajar pada organisasi lain. Teman, Kita hanya perlu prestasi untuk mengangkat nama teknologi pendidikan..

Sumber:

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/10/pddkn/4056322.htm.

http://www.bkksi.or.id/modules.php?name=News&file=article&sid=109.

LPJ ComDev BEM UI.

BAGAIKAN ANAK PANAH DAN NYANYIAN (Henry Wadsworth, 1807-1882)

Kulepaskan anak panah ke udara, ia jatuh ke tanah.

Aku tak tahu dimana jatuhnya, karena ia melesat sangat cepat, sehingga pandanganku tak bisa mengikutinya.

Aku nyanyikan lagu ke angkasa, dan ia jatuh ke tanah.

Aku tak tahu dimana jatuhnya. Siapakah yang memiliki pandangan yang tajam dan kuat, sehingga dapat mengikuti terbangnya lagu itu?

Setelah itu, lama sekali, di sebuah pohon Ek..

Aku menemukan anak panah yang tidak patah dan lagu dari awal sampai akhir.

Aku temukan lagi dalam hati sahabatku..

 

SATU DALAM JIWA (Wiliam Penn, 1644-1718)

Tidak akan ada persahabatan jika tidak ada kebebasan.

Persahabatan menyukai udara bebas dan tidak terikat pada batas yang lurus dan sempit.

Persahabatan akan berbicara dengan bebas dan bertindak dengan bebas juga; dan tidak akan menyakiti karena tidak ada yang perlu disakiti.

Persahabatan akan selalu memaafkan dan melupakan kesalahan

Persahabatan benar-benar menyatu dalam jiwa, dia bersimpati terhadap apa saja.

Seseorang tak akan bahagia tanpa yang lain, salah satu tidak bisa sedih sendirian.

Jika mereka bisa bertukar tempat, maka satu orang akan menggantikan yang lain utntuk merasakan penderitaan seperti bila ada kebahagian, mereka akan merasakannya bersama, keduanya berusaha menyenangkan satu sama lain.

 

TANPA KATA, TANPA ISYARAT (N.N)

Aku sayang padamu bukan hanya karena dirimu tetapi karena apa adanya aku ketika aku bersamamu.

Aku sayang padamu bukan hanya karena kamu telah menjadi dirimu sendiri, tetapi karena kamu telah membuat aku menjadi diriku sendiri.

Aku sayang padamu karena engkau mampu membuatku bertobat dan membuatku bahagia melebihi siapapun.

Kamu mampu melakukannya tanpa sentuhan, tanpa kata-kata, tanpa isyarat.

Kamu melakukannya dengan menjadi dirimu sendiri.

Mungkin inilah yang dimaksud dengan menjadi seorang sahabat.

 

special dedicated to all my best friends.