Kita pasti pernah berada di suatu daerah yang sulit mendapatkan sinyal ponsel atau kehilangan siaran radio yang biasa didengar ketika memasuki luar kota. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Kita lihat dulu bagaimana kerja radio bisa sampai ke wilayah kita.
Dalam Kamus Anak Nasional: Gelombang radio diradiasikan ke udara dalam bentuk getaran, jumlah getaran tiap detik disebut dengan frekwensi. Pada ujung frekwensi gelombang radio dapat menembus benda padat dan cenderung menyebar ke segala arah. Gelombang ini dibuat dengan mengirimkan arus bolak-balik yang kuat ke logam yang disebut dengan antena. Modulasi yang digunakan dalam penyiaran gelombang radio ada dua macam, yaitu ampiltudo modulasi (AM) dan frekwensi modulasi (FM). AM membawa arus gelombang radio yang frekwensinya tetap dan amplitudonya berubah-ubah sesuai suara asal, sedangkan FM sebaliknya. Oleh karenanya suara FM yang sampai ke penerima lebih baik ketimbang AM.
Pada wilayah tertentu, sinyal radio akan sulit diterima dengan baik, wilayah yang sulit tersebut misalnya dataran rendah yang dikelilingi bukit dan gunung yang bisa kita sebut dengan blank spot area (wilayah hampa).
Radio merupakan salah satu media komunikasi yang penting di Indonesia, berbagai kegiatan mulai dari hiburan, pendidikan bahkan sekedar informasi harga cabe memerlukan media ini. Pada wilayah blank spot, dibutuhkan radio komunitas untuk menangkap frekwensi dari daerah yang jauh kemudian disiarkan kembali berbagai informasi yang sesuai kebutuhan wilayahnya masing-masing.
Kalau boleh mengibaratkan cara kerja siaran radio dengan kadar hati (bc: keimanan) manusia, maka kira-kira seperti..
Kadang kita sering diliputi firasat (baik atau buruk) pada waktu yang tidak terduga sama sekali. Misalnya saat berada di percabangan atau persimpangan jalan, sering terdengar dari suara hati “feelingnya sih ke kanan..” atau misalnya kita sudah rapih mau berangkat, tiba-tiba ada saja hambatannya sehingga kita memutuskan untuk menunda atau membatalkan perjalan tsb. Masalah hati (feeling, perasaan, firasat, dsb) emang harus ada pembahasan tersendiri pada waktu lain. Dalam hal ini, saya mencoba mengkrucutkan kedekatan hati kita dengan sang khalik.
Visualisasi gambar diatas hanya pengibaratan dari pribadi saja, bisa jadi tidak persis sama dengan keadaan sebenarnya.
Orang-orang yang beriman dan dekat dengan sang pencipta senantiasa diliputi cahayaNYA akan mampu menangkap sinyal yang dikirimkan ALLAH lebih baik daripada orang-orang yang tidak (mau) dekat denganNYA. Padahal Dia begitu dekat, bahkan lebih dekat daripada urat nadi kita sendiri.
Sementara itu, orang-orang yang puas dengan dirinya sendiri, tidak mau memperbaiki keadaannya, maka sekuat apapun sinyal yang ada tidak akan sampai pada hatinya. Orang-orang dengan keadaan ini bisa dikatakan sedang berada di zona blank spot. Selamanya ia akan berada di wilayah tersebut jika mereka tak mau berusaha “mendaki” ke tempat yang lebih tinggi ataupun mendekati majelis-majelis (komunitas orang-orang beriman) yang bisa saling mengingatkan dalam kebaikan seperti layaknya radio komunitas tadi.

Jikalau sinyal sudah sering didapat, maka kita harus terus bisa merawat elemen/logam penangkap sinyal itu tadi dengan baik. Receiver dari sinyal tersebut adalah iman. Maka, sudahkah kita merawatnya dengan baik?
subhanaLlah, sebuah perumpamaan yang menarik,…
Alhamdulillah, semoga kita bisa terus merawat “sinyal” itu ya pak..
makasih kunjungannya..
salam kenal dari eko kunjungi blog ku ya
jangan lupa kunjungi situs buatannku
eko.coolpage.biz dan konseling.orgfree.com