Iseng-iseng buka postingan di blogspot 2 tahun yang lalu dan ternyta masih ada
tapi ya ampyunn..melankolis bgt! Wakakakakkk.. tapi setelah dipikir-pikir mungkin ini bisa jadi sekedar sharing untuk sahabat saya di Cilegon yang sedang melewati “fase” yang gak enak itu. *Biasalahhh..anak muda jaman sekarang!* Huehehehee.. 
Friday, November 17, 2006
“Ayas! Cepat kesini, mas Jati baru bikin sirup bunga!” teriak kecil mas Jati waktu Yasmin baru selesai mandi pagi. “Mana sirupnya mas?”. “liat deh, ini namanya sirup bunga!”. Ketika itu yasmin melihat dengan takjub air berwarna merah yang keluar dari gerusan bunga sepatu. “ayas mau mas..ayas mau..”. “jangan, ayas main ama mas Damar aja! Mas punya bunga matahari yang bentuknya persis seperti matahari!” mas Damar pun berteriak memanggil Ayas adik tercintanya. Suara riuh rendah dan tawa riang mereka menghiasi taman kecil milik eyang tercinta mereka selalu…
“Eyang..eyang..Ayas boleh petik bunga ini, ayas mau gerus jadi sirup seperti punya mas jati”. Eyang tersenyum dan mengangguk. “Asikkk…”, lalu Yasmin pun berlari kecil menuju mas jati dan mas damar yang masih asik dengan eksperimen bunga yang lain. Namun tiba-tiba “BRUKKK” Yasmin tersandung batu taman dan tangispun tak terbendung lagi. “hahaha…si kaki kecil jatuh lagi!” mas Jati dan mas Damar bergantian menyoraki Yasmin karena memang tubuh Yasmin kurang proporsional. Tubuhnya cukup ndut, sementara tungkai kakinya kecil sehingga seringkali ia terjatuh karena kurang bisa menyeimbangkan tubuhnya.
“cup..cup..sayang, cucu eyang yang manis jangan nangis..” eyang pun harus ekstra keras untuk menghentikan tangis cucu perempuan pertamanya, Yasmin sangat cengeng dan mudah ngambek karena memang dari lahir kurang sentuhan tangan ibunya yang masih harus “di isolasi” darinya agar yasmin tidak tertular penyakit yang sama.
“dengar sayang, bunga yang tadi Ayas minta punya nama yang sama dengan ayas”, cepp..seketika itu juga Yasmin mulai menghentikan tangisnya. “Ayas, nama bunga ini adalah melati, yang nama lainnya adalah jasmine” “yah betul, bahasa latinnya adalah Jasmine, mirip kan dengan nama ayas”. “nama ayas?”, “Yasminda Kani Putri maksud eyang?”. “hahaha..betul! cucu eyang pintar ya?”. Senyum yasmin pun merekah indah seperti melati yang mekar pagi itu.
“Eyang..ayas suka sekali dengan melati! Dia seperti Ayas kalau baru selesai mandi! Heummpphhh….pasti wangiii…hihihi…”. “Betul sayang, bunga ini bunga kesayangan eyang, karena selain wanginya yang khas, bunga itu selalu mengingatkan eyang pada cucu kesayangan eyang!” terang eyang sambil meyentuh lembut hidung yasmin. “yang bener nih yang? Bukannya cucu kesayangan eyang itu mas damar dan mas jati??” sikut manja yasmin, “sssstttt…..” tangan eyang mengisyaratkan tanda rahasia mereka berdua. “Bunga ini juga sangat bermanfaat, harumnya menenangkan, bentuknya sederhana namun indah, mudah dipelihara, dan yang pasti…” eyang menghentikan sebentar penjelasannya kemudian ia beranjak meninggalkan Yasmin sebentar menuju meja kecil tempat dimana ia biasa merajut. “melati ini bisa untuk menghias kepala pengantin wanita yang biasanya disebut ronce” lanjut eyang kemudian. “ronce? seperti yang tante Yuli kemarin pakai?” mata Yasmin berbinar-binar. “betul! Suatu saat nanti ayas juga akan memakai melati2 ini..” eyang menatap lekat mata ayas yang semakin berbinar itu.
“Bunda, Simpan dulu dulu dong undangannya! Ayo lanjut lagi cerita putri jempolnya…”. Tiba2 Yasmin tersadar dari lamunannya. “Oia, sampai dimana cerita bunda tadi?”. “Ihh..bunda! kita sudah sampai saat putri jempol terbawa arus sungai saat melarikan diri dari rumah ibu tikus!” jelas Renda anak angkatnya yang paling dewasa. “oia, maafin bunda yaa..lanjut lagi deh..waktu itu saat putri sampai di tepi sungai, laluu…” Yasmin pun kembali melanjutkan ceritanya.
Pagi ini seharusnya Yasmin sudah mengenakan ronce melati berikut dengan baju kebaya putih jahitan etek Icha yang sudah dipesan 3 bulan yang lalu, seharusnya pagi ini ia sudah berdiri dengan anggun dan menyalami ratusan tamu undangan, seharusnya pagi ini yasmin sudah menyandang gelar nyonya Surya Pratama. Ya, seharusnya jika rencana pernikahannya setengah tahun yang lalu itu terlaksana, pagi ini mungkin yasmin tidak duduk bersama dengan 5 orang anak2 angkatnya, namun duduk bersanding dengan Surya.
Setelah acara mendongeng selesai, Renda, Galuh, Ramdani, dan Ikhsan berlarian menuju dapur, mbok mur sudah menghidangkan sarapan untuk mereka.
Tinggal Hezel yang masih kecil yang tetap duduk di pangkuan Yasmin, matanya tak berkedip saat seekor kupu-kupu hinggap sebentar di ujung hidungnya lalu kembali terbang, bola matanya terus menatap ke arah perginya kupu-kupu tadi. Yasmin geli sekali melihat tingkah hezel, lalu ia kembali menatap undangan yang berwarna hijau daun dengan aksen mawar putih, ia melihat lekat nama yang tercetak emas. “Indah Sari & Surya Pratama”. Nama pengantin pria yang tidak asing lagi, yang namanya selalu menghiasi hari-hari yasmin seperti layaknya kupu-kupu yang selalu mampir dan menghiasi tamannya. “Lihat Hezel…kalau saja bunda jadi bersamanya, warna undangannya pasti tak hanya hijau, tapi pasti ada warna kuningnya” Hezel mendengarkan penjelasan Yasmin sambil sekali-kali memperhatikan gerak bibir Yasmin. “Tak hanya itu, aksennya pasti berbentuk melati, seperti nama bunda…”. Hezel menatap sebentar, lalu ia kembali mencari kupu-kupu tadi. “akhkh..hakaka..nda min tutu pupu..” tangan Hezel menunjuk-nunjuk kupu-kupu yang terbang semakin jauh. “Kupu-kupunya sudah terbang sayang..tidak apa besok akan ada kupu-kupu lain yang akan mampir ke taman kita lagi”, “Ini, lihat bunda sudah membuat ronce melati”. Mata Hezel berbinar-binar, seperti mata yang pernah ia perlihatkan ke eyang 20 tahun yang lalu saat pertamakali mengenal ia melati.
Yasmin kemudian menatap langit pagi, lalu menarik nafas yang panjang. “Eyang, hari ini Ayas tidak jadi memakai ronce melati seperti yang pernah eyang bilang..” “aku menolaknya sebagai bentuk baktiku pada ayah dan ibu..” “kesalahan aku padanya tentu banyak, aku pasti membuatnya luka..tapi seandainya saja ia mau mengerti apa yang seharusnya ia lakukan, kalau saja ia tak melihat segala sesuatu dari 1 perspektif yang sama, mungkin saat ini aku sudah bersama dengannya di taman ini, dengan bertahta ronce melati ini…” “Eyang…mungkin hari ini memang belum saatnya aku mengenakan ronce ini…suatu saat nanti pasti eyang…suatu hari nanti di pagi hari…melati ini pasti akan terlihat lebih indah…”
–> Tuh kan, melankolis abis! Waktu itu kenape yee?? Au ahh elapp.. 