Untuk menciptakan produktivitas yang optimal dengan memanfaatkan semua sumber daya yang tersedia dalam efektif dan efisien adalah tantangan yang dihadapi oleh suatu organisasi. Salah satu dari beberapa sumber daya yang harus diperhatikan dalam mencapai produktivitas yang optimal adalah sumber daya manusia. Mengapa manusia? Karena manusia merupakan unsur terpenting dalam setiap organisasi. Keberhasilan organisasi mencapai tujuan dan berbagai sasarannya serta menghadapi berbagai tantangan sangat ditentukan oleh kemampuan mengelola karyawan dengan baik dan tepat.
Agar dapat mengelola karyawan dengan baik dan tepat, dibutuhkan suatu sistem yang mengorganisir antara kebutuhan organisasi dengan kondisi real yang ada (baik itu sumber daya manusia, sumber daya alam, teknologi, bahan, dsb). Sistem yang dimaksud itu adalah pelatihan. Pelatihan merupakan salah satu pengembangan dari sistem pendidikan dimana penerapannya lebih terkonsentrasi di lembaga/perusahaan/organisasi masyarakat.
Pelatihan telah lama muncul manakala pembelajaran tingkat struktual sudah semakin dibutuhkan. Terutama setelah semakin banyak timbul masalah instruksional dalam organisasi.
Sesuai dengan definisi umum dari pelatihan itu sendiri yaitu; Suatu sistem pengembangan knowledge/pengetahuan, skill/keterampilan, dan attitude/perilaku yang sesuai & diharapkan dari setiap individu sesuai dengan spesifikasi tugas atau pekerjaan yang telah ditentukan. Karena itu setiap masalah yang timbul karena tiga hal tersebut layak untuk diselesaikan dengan pelatihan (problem solved by instructional solution) yang berfungsi sebagai pembelajaran terhadap kinerja karyawan, misalnya ada paradigma baru yang berkembang dalam perusahaan seperti adanya mesin baru, kebijakan baru, dan prosedur baru dalam perusahaan. Namun apabila masalah yang di deteksi muncul bukan karena tiga hal tersebut, maka penyelesaian masalah tidak harus dengan pelatihan (problem solved by non-instructional solution), bisa jadi masalah tersebut diselesaikan dengan memperbaiki prosedural atau manajerial perusahaan, masalah yang biasanya timbul berupa kurangnya reward&punishment, pengaturan gaji dan insentif, motivasi, jobdesk yang kurang jelas dari setiap bidang atau individu.
Dalam penyelenggaraan suatu pelatihan ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Banyak prosedur yang harus dijalankan agar menghasilkan lulusan pelatihan sesuai dengan yang diinginkan. Banyak masalah yang sering timbul dari pelatihan, diantaranya: kurang fokusnya pelatihan, kurang sistematis dalam penyelengaraan, dan kurang didukung dari pihak manajemen.
Fokus pelatihan yang kurang sering terjadi karena tidak adanya kesamaan tujuan dalam penyelenggaraan pelatihan, para penyelenggara pelatihan kurang tahu kepentingan perusahaan itu apa? Karena itu, analisis kebutuhan/need assesment merupakan point pertama dan utama dalam pelatihan. Kesalahan dalam menentukan kebutuhan akan berimbas panjang pada tahapan berikutnya yaitu desain, pengembangan, implementasi dan evaluasi. Sehingga pelatihan bukannya menyelesaikan masalah malah menambah masalah baru (buang-buang waktu, tenaga, dan biaya). Sehingga bila ada yang bertanya; apakah pelatihan harus “terjual habis” atau laku bak kacang goreng? maka jawabannya adalah; tidak sama sekali! Karena yang paling penting dari pelatihan adalah perbaikan KINERJA atau PERFORMANCE. Pelatihan bukan “budaya” atau kebiasaan yang harus dilaksanakan secara rutin tanpa didasari kepentingan kemajuan performance perusahaan.
Tahapan-tahapan yang dilewati dalam pelatihan (ISD System) adalah; analysis, design, development, implementation dan evaluation. Pada tahap analisis, yang ditentukan adalah: apakah training dapat menyelesaikan masalah kinerja? Memastikan bahwa pelatihan berorientasi pada perfomance kerja, menentukan sumber daya yang akan dibutuhkan, dan menetapkan standar keberhasilan dari para lulusan pelatihan.
Pada tahap desain, terdapat tiga langkah dasar yaitu: merencanakan strategi pelatihan, menyeleksi format pelatihan, dan menulis dokumen desain pelatihan. Pada tahap pengembangan, adalah tahap yang paling menyenangkan sekaligus membuat stress. Pada tahap ini ada penentuan: spesifikasi belajar, kegiatan/aktifitas, spesifikasikan manajemen rencana pengajaran dan sistem penyampaian, mereview/menyeleksi materi yang sesuai, pengembangan pengajaran, validasi pengajaran.
Pada tahap implementasi, adalah tahap pelaksanaan dengan perencanaan yang lengkap, pada tahap ini pre-test penting diberikan sesuai dengan materi yang diberikan, tahap ini akan menghasilkan: ketetapan susunan logistik pada pelatihan, pengembangan agenda pelatihan, membangun suasan yang mendukung, mengembangkan/meningkatkan kemampuan penyampaian, dan mempraktekkan pelatihan.
Tahap terakhir; evaluasi, dari tahap ini kita harus mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan pelatihan, mengetahui apakah pelatihan sudah terorganisir dengan baik, mengidentifikasi para lulusan pelatihan, menentukan keuntungan dan biaya pelatihan, membandingkan biaya & keuntungan pelatihan versus penanaman modal non-pelatihan. Di tahap ini pula harus diadakan post test training evaluation kepada para lulusan pelatihan dan dilihat lagi kinerjanya setelah pelatihan berlangsung (biasanya dilaksanakan 3-6 bulan setelah pelatihan).
nice buat tulisannya,, referensi tolong dicantumkan.