Hari ini adalah kunjungan ke-lima dari dua bulan terakhir ke dokter gigi praktek langganan sejak kecil. Sebelum memasuki ruang tunggu, saya sempat melintasi papan nama yang sudah mulai berkarat di sisi-sisinya. Tiba-tiba saja teringat waktu pertama kali ke tempat itu. Saat itu umur saya baru enam tahun dan luar biasa takut saat membaca papan nama yang saat itu masih bersih bertuliskan: Drg. Adi Pranata, praktek setiap hari jam 15.00-21.00, kecuali hari minggu dan hari libur besar. Membayangkannya saja sudah seperti sapi yang siap dijagal atau terdakwa yang siap disuntik mati. Tidak karuan rasanya duduk di garasi yang dijadikan ruang tunggu sementara sesekali terdengar suara desingan panjang seperti tukang bangunan yang memotong keramik dari balik tembok putih ruang praktek itu. Beberapa tahun lalu bisa dibilang masa kejayaannya para dokter praktek, karena mungkin saja saat itu masih sedikit sekali Rumah Sakit yang menyediakan pelayanan yang baik untuk urusan gigi. Tapi entahlah, saya masih kecil dan hanya tau gigi saya banyak yang “oglek” (bc: goyang) dan papah dengan sabar selalu mengantarkan saya dan adik kesana. Papah juga selalu bersedia menjadi “kursi tambahan” sebagai penambah mental setiap kami mendapat giliran menempati “kursi listrik” itu. Hanya ada satu hal yang tidak bisa diingat persis yaitu alasan mengapa papah memilih “algojo gigi yang baik hati” ini. Karena kalau saja kami bisa memprediksi harga yang dipatok belasan tahun kemudian, mungkin saya akan memilih menyerahkan perawatan gigi-gigi saya pada… ;P
Kini setelah usia saya nyaris 25 tahun, dimana tinggi tubuh tak beda jauh dengan algojo gigi itu, dan tentu saja tidak lagi memerlukan “kursi tambahan” papah. Saya sudah tidak lagi merasa deg-degan seperti akan disuntik mati atau di mutilasi 12 potong. Mental saya sudah lama tidak berurusan dengan alat-alat canggih kedokteran gigi itu. Mental saya kini lebih dihadapkan pada bagaimana bisa keluar dari pintu ruang praktek itu dengan kantong tetap tebal?!
Setelah hampir 20 menit gigi saya dibuka menganga pasrah sepeti hippo alias kuda nil kalau kepanasan dan berendam di lumpur, akhirnya dokter berteriak kecil “yaaak, buang, kumur yang banyak!” Ahh..akhirnya keluar juga kata-kata itu, pegel banget! Tidak yang berubah dari gaya perintah ini. Ia pasti sudah mengucapkannya ratusan juta kali pada ratusan pasien yang berbeda sepanjang masa prakteknya. Menit berikutnya saya harus menahan sabar dan pasrah setiap dia mulai mengucapkan kalimat sakti ala kuda nil, “Buka mulutnyaa..Aaaaa..Tahaannn…”
Menit-menit menyakitkan fisik mulut, pipi dan sekitarnya itu tidak sebanding dengan menit-menit berikutnya disaat dokter itu menuliskan setiap centi tulisan cacingnya di kwitansi, saya tidak bisa mengedipkan mata hingga penanya jatuh ke kolom terakhir berupa total biaya yang harus dikeluarkan. Huffff..kenapa gigi rusak ketika sudah memutuskan keluar dari kerjaan tetap? Apes! Saya pun melirik dompet pink yang berisi uang dari orangtua. Ya Allah, maafkan atas ketidak mandirianku ini. Semoga setelah tiga gigi yang rusak parah ini beres, aku tidak akan berhubungan dengan mahalnya pengobatan tetek bengek macam ini lagi. No more sick, titik!
Sepanjang perjalanan pulang, saya hanya bisa menatap tangan lelaki yang seharusnya sudah menyandang gelar “kakek” itu sedang mencengkram stir esteem tua kami menuju kembali ke rumah. Pikiranku jauh melesat menembus atap mobil kaleng ini, papah tetap ada untuk sekedar mengantar pengobatan gigi, sedangkan mamah tetap mampu menyediakan dana untuk urusan ketebelece macam gigi tengik dan rapuh ini. Demi Allah, apapun takdirku nanti kuharap bisa membalas semua kebaikan dan pengorbanan mereka.
Ketika sampai di rumah, urusan belum selesai. Ada sedikit cek-cok kecil antara papah dan mamah tentang biaya yang baru saja dikeluarkan. Saya jadi gregetan dengan gigi-gigi ini dan jika nanti punya anak-anak yang mulai besar, maka kemungkinan besar saya akan berkata seperti ini:
– tahun 2013 –
Dengar nak, harga perbaikan berupa penambalan satu gigi graham permanen dengan metode penyinaran di tahun 2008 adalah Rp. 325.000,00. Metode ini sangat canggih karena beberapa jam setelahnya kita bisa langsung makan seperti biasa seakan-akan tidak pernah sakit gigi sebelumnya. Namun, bisakah kau bayangkan berapa harga perbaikan 1 gigi ketika umurmu 25 tahun nanti? Sementara negara ini belum mampu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dengan memberikan pelayanan kesehatan cuma-cuma seperti yang terjadi di negara-negara lain. Bersiaplah kau menganga ala hippo Afrika dan berkubang pada lumpur kemiskinan, karena jangankan urusan gigi, makanpun kau akan sulit. Tapi semoga saja tidak..
Ibu memang bukan dokter gigi, tapi camkan ini baik-baik, di saat kau berumur 6 tahun, disaat itulah hampir setiap dua bulan sekali kamu akan mendapati gigi susumu lepas satu persatu. Lima tahun setelah itu, kamu tidak akan menemui satupun gigi susumu karena semuanya telah tergantikan dengan gigi-gigi dewasa atau permanen. Disaat itulah kamu sudah harus mulai was-was karena gigi terakhir atau gigi permanen yang Allah beri tidak akan tergantikan dan suksesi menjadi gigi generasi ke-tiga. Ingat, gigi hanya punya dua generasi: generasi susu dan generasi permanen. Setelah itu hanya ada gigi emas dan gigi palsu yang tidak tumbuh dari gusi-gusimu sendiri, melainkan dari pabrik gigi!
Bayangkan seandainya tingkat inflasi negara ini tidak dapat terkendali, maka harga semen gigi untuk menambal akan naik berkali-kali lipat dan dokter gigi tidak akan ambil pusing seberapa tebal atau tipis kantongmu, karena mereka juga harus membayar pajak, merawat peralatan super canggih, membeli bensin, dan tentu saja memberi makan anak istri mereka sendiri.
Bersiaplah di saat umurmu 25 tahun keatas, harga perbaikan gigi bisa naik puluhan kali lipat. Bisa saja setiap perbaikan 1 gigi bernilai 975 ribu atau mungkin 1 jutaan. Perbaikan gigi yang berjuta-juta tetap tidak menguntungkan karena kau tetap tidak akan dapat menjualnya kembali. Emangnya mobil atau motor?
Itu sebabnya dari sekarang biasakan diri menggosok gigi setiap sesudah makan dan menjelang tidur agar gigimu awet sampai tua. Gigi adalah investasi seumur hidup. Gigi tidak seperti HP, mobil, atau emas yang kalau sudah tak suka atau
rusak sedikit dapat kau jual. Ingat, gigi tidak bisa dijual kecuali pada dukun yang butuh untuk ramuan guna-gunanya! Hahaha..
Kelak, ibu tidak akan berlarut-larut pusing dengan gigi-gigimu yang membusuk di usia 20an. Karena ibu tidak mau ribut dengan ayahmu untuk urusan biaya macam itu. Kecuali jika ayahmu memang mesin uang! Uppss..
Ibu tak menuntut banyak urusan gigi, tapi kurasa ada dua pilihan yang dapat kau ambil. Pertama, rajin-rajinlah menggosok gigi agar kau tidak berurusan dengan dokter gigi, sehingga kau dapat melakukan hal yang lebih banyak ketimbang mengurus gigi. Kedua, jadilah kau orang yang berpendidikan tinggi minimal seperti dokter gigi agar cepat kaya dan bisa memberikan perawatan gratis pada anak cucumu kelak dan dapat membantu masyarakat luas tentunya. Kalau perlu, pengobatan gratis untuk rakyat miskin nak..
Ingat, kuman punya seribusatu cara untuk membuatmu kembali mengunjungi dokter gigi kalau kau tak pandai merawat gigi. Kuman bisa mampir kapan saja terutama jika kau tak segera menggosok gigi setiap selesai memakan coklat, permen, eskrim, dan ratusan jenis makanan lainnya. Camkan itu baik-baik!
Oia, satu lagi! Tidak ada peri gigi, gigi bagian bawah tidak harus dilempar ke atas, begitupun dengan gigi bagian atas tidak harus ditanam ke tanah. Tidak penting mengurus gigi yang sudah habis masa baktinya, karena yang terpenting bagaimana melestarikan dan merawat generasi gigi yang akan tumbuh berikutnya.
Maaf nak, ibu berkata seperti ini karena tahun 2008 yang lalu merupakan tahun paling menyakitkan beberapa gigi ibu dan juga dompet nenekkakekmu. Kuharap kau mengerti ya…
Hufff..lega sudah menyampaikan ini. Ini cuman bercanda, karena kalau mereka di kasih traetment seperti ini, pasti akan stress berat! Hehehe.. Tapi yang pasti semoga anak cucu kita semua tumbuh dengan sehat jasmani dan rohani, serta tidak banyak masalah dengan gigi! Peace! Salam hangat ^o^V.

saya juga sedang terapi gigi skrg…
dokter gigi emang menyeramkan….biayanya juga
Hehehee..sabar ya pak..semoga giginya bisa segera sembuh..
hai listya, salam kenal, ceritanya lucu, dan yang paling penting non-fiksi, hehe
Hai juga mas Dino..
salam kenal kembali
giginya sehat kan?
saya suka penulis dari hati macam mbak listya ini.. salam kenal keep up the thought written activities!